Selamat Datang di Yayasan Nurussyamsi

Yayasan Nurussyamsi adalah yayasan terbesar di kota Depok.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Pensi dan Wisuda

Pensi dan Wisuda di Cabang Nurussyamsi Jembatan Serong.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selamat datang Siswa-siswi Baru di Yayasan Nurussyamsi

Mukadimah

Bismillah, teriring do'a Ikhwah semoga kita senantiasa dalam ketaatan dan menetapi jalan kebenaran dijalan Allah 'azza wa jalla dan RasulNya

Dari Al Aghar bin Yasar Al Muzanniy radhiyallahu 'anhu, ia berkata : "Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Wahai manusia, Bertaubatlah kalian kepada Allah ta'ala dan mohonlah ampun kepadaNya, sesungguhnya saya bertaubat seratus kali setiap hari." (HR. Muslim)

Wahai saudara marilah kita membiasakan dan berusaha untuk selalu bertaubat kepada Allah ta'ala setiap hari, setiap saat, setiap waktu, Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam sendiri beliau seorang yang dijaga dari dosa dan diampuni dosanya yang lalu dan yang akan datang oleh Allah ta'ala, beliau sendiri merasa takut sekali kepadaNya, lalu bagaimana dengan kita ? Kita berdoa kepada Allah ta'ala agar kita dijaga dari perbuatan dosa dan dijadikan kita semua termasuk kedalam golongan hamba-hambaNya yang ikhlas bertaubat kepadaNya. أمين Allahu musta'an

Kata Mutiara

QS Al-Baqarah : 45

Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.

Kata Mutiara

Hari kemarin adalah mimpi dan hari esok adalah visi, jangan jadikan hari kemaren sebagai sebuah penyesalan dan jangan pula menatap hari esok dengan ketakutan.
Kita selalu berharap pengalaman kemarin selalu bisa bermanfaat hari ini dan rencana hari ini bisa berguna esok hari.
Semua itu adalah harapan dan harapan adalah bagian dari doa.
Sama seperti doa, tidak semua harapan terwujud dengan nyata dan hal tersebut tidak perlu menjadikan kita berhenti untuk berharap.

Sabtu, 25 Mei 2013

Undangan Wisuda dan Pensi SMK Izzata

Wisuda dan Pentas Seni 2013





Selasa, 24 Juli 2012

SMK Saradan Bogor

SMK Saradan terletak di Jl. Raya Tonjong No. 18 Tajur Halang Kabupaten Bogor adalah salah satu SMK favorit di Kabupaten Bogor dengan siswa terbanyak dan segudang prestasi memiliki Program Kompetensi Keahlian:
1. Teknik Kendaraan Ringan
2. Rekayasa Perangkat Lunak
3. Tehnik Komputer dan Jaringan



Selasa, 10 April 2012

MANAJEMEN PENINGKATAN MUTU BERBASIS SEKOLAH

MANAJEMEN PENINGKATAN MUTU
BERBASIS SEKOLAH
 
Sebuah pendekatan baru dalam pengelolaan sekolah
untuk peningkatan mutu
Oleh
Drs. Umaedi, M.Ed
Direktur Pendidikan Menengah Umum
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
DIREKTORAT JENDRAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH
DIREKTORAT PENDIDIKAN MENENGAH UMUM
April 1999
Pendahuluan
1. Latar Belakang
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa perubahan di hampir semua aspek kehidupan manusia dimana berbagai permasalahan hanya dapat dipecahkan kecuali dengan upaya penguasaan dan peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain manfaat bagi kehidupan manusia di satu sisi perubahan tersebut juga telah membawa manusia ke dalam era persaingan global yang semakin ketat. Agar mampu berperan dalam persaingan global, maka sebagai bangsa kita perlu terus mengembangkan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusianya. Oleh karena itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan kenyataan yang harus dilakukan secara terencana, terarah, intensif, efektif dan efisien dalam proses pembangunan, kalau tidak ingin bangsa ini kalah bersaing dalam menjalani era globalisasi tersebut.
Berbicara mengenai kualitas sumber daya manusia, pendidikan memegang peran yang sangat penting dalam proses peningkatan kualitas sumber daya manusia. Peningkatan kualitas pendidikan merupakan suatu proses yang terintegrasi dengan proses peningkatan kualitas sumber daya manusia itu sendiri. Menyadari pentingnya proses peningkatan kualitas sumber daya manusia, maka pemerintah bersama kalangan swasta sama-sama telah dan terus berupaya mewujudkan amanat tersebut melalui berbagai usaha pembangunan pendidikan yang lebih berkualitas antara lain melalui pengembangan dan perbaikan kurikulum dan sistem evaluasi, perbaikan sarana pendidikan, pengembangan dan pengadaan materi ajar, serta pelatihan bagi guru dan tenaga kependidikan lainnya. Tetapi pada kenyataannya upaya pemerintah tersebut belum cukup berarti dalam meningkatkan kuailtas pendidikan. Salah satu indikator kekurang berhasilan ini ditunjukkan antara lain dengan NEM siswa untuk berbagai bidang studi pada jenjang SLTP dan SLTA yang tidak memperlihatkan kenaikan yang berarti bahkan boleh dikatakan konstan dari tahun ke tahun, kecuali pada beberapa sekolah dengan jumlah yang relatif sangat kecil.
Ada dua faktor yang dapat menjelaskan mengapa upaya perbaikan mutu pendidikan selama ini kurang atau tidak berhasil. Pertama strategi pembangunan pendidikan selama ini lebih bersifatinput oriented. Strategi yang demikian lebih bersandar kepada asumsi bahwa bilamana semua input pendidikan telah dipenuhi, seperti penyediaan buku-buku (materi ajar) dan alat belajar lainnya, penyediaan sarana pendidikan, pelatihan guru dan tenaga kependidikan lainnya, maka secara otomatis lembaga pendidikan ( sekolah) akan dapat menghasilkan output (keluaran) yang bermutu sebagai mana yang diharapkan. Ternyata strategi input-output yang diperkenalkan oleh teori education production function (Hanushek, 1979,1981) tidak berfungsi sepenuhnya di lembaga pendidikan (sekolah), melainkan hanya terjadi dalam institusi ekonomi dan industri.
Kedua, pengelolaan pendidikan selama ini lebih bersifat macro-oriented, diatur oleh jajaran birokrasi di tingkat pusat. Akibatnya, banyak faktor yang diproyeksikan di tingkat makro (pusat) tidak terjadi atau tidak berjalan sebagaimana mestinya di tingkat mikro (sekolah). Atau dengan singkat dapat dikatakan bahwa komleksitasnya cakupan permasalahan pendidikan, seringkali tidak dapat terpikirkan secara utuh dan akurat oleh birokrasi pusat.
Diskusi tersebut memberikan pemahaman kepada kita bahwa pembangunan pendidikan bukan hanya terfokus pada penyediaan faktor input pendidikan tetapi juga harus lebih memperhatikan faktor proses pendidikan..Input pendidikan merupakan hal yang mutlak harus ada dalam batas - batas tertentu tetapi tidak menjadi jaminan dapat secara otomatis meningkatkan mutu pendidikan (school resources are necessary but not sufficient condition to improve student achievement). Disamping itu mengingat sekolah sebagai unit pelaksana pendidikan formal terdepan dengan berbagai keragaman potensi anak didik yang memerlukan layanan pendidikan yang beragam, kondisi lingkungan yang berbeda satu dengan lainnya, maka sekolah harus dinamis dan kreatif dalam melaksanakan perannya untuk mengupayakan peningkatan kualitas/mutu pendidikan. hal ini akan dapat dilaksanakan jika sekolah dengan berbagai keragamannya itu, diberikan kepercayaan untuk mengatur dan mengurus dirinya sendiri sesuai dengan kondisi lingkungan dan kebutuhan anak didiknya. Walaupun demikian, agar mutu tetap terjaga dan agar proses peningkatan mutu tetap terkontrol, maka harus ada standar yang diatur dan disepakati secara secara nasional untuk dijadikan indikator evaluasi keberhasilan peningkatan mutu tersebut (adanya benchmarking). Pemikiran ini telah mendorong munculnya pendekatan baru, yakni pengelolaan peningkatan mutu pendidikan di masa mendatang harus berbasis sekolah sebagai institusi paling depan dalam kegiatan pendidikan. Pendekatan ini, kemudian dikenal dengan manajemen peningkatan mutu pendidikan berbasis sekolah (School Based Quality Management) atau dalam nuansa yang lebih bersifat pembangunan (developmental) disebut School Based Quality Improvement.
Konsep yang menawarkan kerjasama yang erat antara sekolah, masyarakat dan pemerintah dengan tanggung jawabnya masing - masing ini, berkembang didasarkan kepada suatu keinginan pemberian kemandirian kepada sekolah untuk ikut terlibat secara aktif dan dinamis dalam rangka proses peningkatan kualitas pendidikan melalui pengelolaan sumber daya sekolah yang ada. Sekolah harus mampu menterjemahkan dan menangkap esensi kebijakan makro pendidikan serta memahami kindisi lingkunganya (kelebihan dan kekurangannya) untuk kemudian melaui proses perencanaan, sekolah harus memformulasikannya ke dalam kebijakan mikro dalam bentuk program - program prioritas yang harus dilaksanakan dan dievaluasi oleh sekolah yang bersangkutan sesuai dengan visi dan misinya masing - masing. Sekolah harus menentukan target mutu untuk tahun berikutnya. Dengan demikian sekolah secara mendiri tetapi masih dalam kerangka acuan kebijakan nasional dan ditunjang dengan penyediaan input yang memadai, memiliki tanggung jawab terhadap pengembangan sumber daya yang dimilikinya sesuai dengan kebutuhan belajar siswa dan masyarakat.
2. Tujuan
Konsep manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah ini ditulis dengan tujuan;
  1. Mensosialisasikan konsep dasar manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah khususnya kepada masyarakat.
  2. Memperoleh masukan agar konsep manajemen ini dapat diimplentasikan dengan mudah dan sesuai dengan kondisi lingkungan Indonesia yang memiliki keragaman kultural, sosio-ekonomi masyarakat dan kompleksitas geografisnya.
  3. Menambah wawasan pengetahuan masyarakat khususnya masyarakat sekolah dan individu yang peduli terhadap pendidikan, khususnya peningkatan mutu pendidikan.
  4. Memotivasi masyarakat sekolah untuk terlibat dan berpikir mengenai peningkatan mutu pendidikan/pada sekolah masing - masing.
  5. Menggalang kesadaran masyarakat sekolah untuk ikut serta secara aktif dan dinamis dalam mensukseskan peningkatan mutu pendidikan.
  6. Memotivasi timbulnya pemikiran - pemikiran baru dalam mensukseskan pembangunan pendidikan dari individu dan masyarakat sekolah yang berada di garis paling depan dalam proses pembangunan tersebut.
  7. Menggalang kesadaran bahwa peningkatan mutu pendidikan merupakan tanggung jawab semua komponen masyarakat, dengan fokus peningkatan mutu yang berkelanjutan (terus menerus) pada tataran sekolah.
  8. Mempertajam wawasan bahwa mutu pendidikan pada tiap sekolah harus dirumuskan dengan jelas dan dengan target mutu yang harus dicapai setiap tahun. 5 tahun,dst,sehingga tercapai misi sekolah kedepan.
Pengertian Peningkatan Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah.
Bervariasinya kebutuhan siswa akan belajar, beragamnya kebutuhan guru dan staf lain dalam pengembangan profesionalnya, berbedanya lingkungan sekolah satu dengan lainnya dan ditambah dengan harapan orang tua/masyarakat akan pendidikan yang bermutu bagi anak dan tuntutan dunia usaha untuk memperoleh tenaga bermutu, berdampak kepada keharusan bagi setiap individu terutama pimpinan kelompok harus mampu merespon dan mengapresiasikan kondisi tersebut di dalam proses pengambilan keputusan. Ini memberi keyakinan bahwa di dalam proses pengambilan keputusan untuk peningkatan mutu pendidikan mungkin dapat dipergunakan berbagai teori, perspektif dan kerangka acuan (framework) dengan melibatkan berbagai kelompok masyarakat terutama yang memiliki kepedulian kepada pendidikan. Karena sekolah berada pada pada bagian terdepan dari pada proses pendidikan, maka diskusi ini memberi konsekwensi bahwa sekolah harus menjadi bagian utama di dalam proses pembuatan keputusan dalam rangka peningkatan mutu pendidikan. Sementara, masyarakat dituntut partisipasinya agar lebih memahami pendidikan, sedangkan pemerintah pusat berperan sebagai pendukung dalam hal menentukan kerangka dasar kebijakan pendidikan.
Strategi ini berbeda dengan konsep mengenai pengelolaan sekolah yang selama ini kita kenal. Dalam sistem lama, birokrasi pusat sangat mendominasi proses pengambilan atau pembuatan keputusan pendidikan, yang bukan hanya kebijakan bersifat makro saja tetapi lebih jauh kepada hal-hal yang bersifat mikro; Sementara sekolah cenderung hanya melaksanakan kebijakan-kebijakan tersebut yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan belajar siswa, lingkungan Sekolah, dan harapan orang tua. Pengalaman menunjukkan bahwa sistem lama seringkali menimbulkan kontradiksi antara apa yang menjadi kebutuhan sekolah dengan kebijakan yang harus dilaksanakan di dalam proses peningkatan mutu pendidikan. Fenomena pemberian kemandirian kepada sekolah ini memperlihatkan suatu perubahan cara berpikir dari yang bersifat rasional, normatif dan pendekatan preskriptif di dalam pengambilan keputusan pandidikan kepada suatu kesadaran akan kompleksnya pengambilan keputusan di dalam sistem pendidikan dan organisasi yang mungkin tidak dapat diapresiasiakan secara utuh oleh birokrat pusat. Hal inilah yang kemudian mendorong munculnya pemikiran untuk beralih kepada konsep manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah sebagai pendekatan baru di Indonesia, yang merupakan bagian dari desentralisasi pendidikan yang tengah dikembangkan.
Manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah merupakan alternatif baru dalam pengelolaan pendidikan yang lebih menekankan kepada kemandirian dan kreatifitas sekolah. Konsep ini diperkenalkan oleh teori effective school yang lebih memfokuskan diri pada perbaikan proses pendidikan (Edmond, 1979). Beberapa indikator yang menunjukkan karakter dari konsep manajemen ini antara lain sebagai berikut; (i) lingkungan sekolah yang aman dan tertib, (ii) sekolah memilki misi dan target mutu yang ingin dicapai, (iii) sekolah memiliki kepemimpinan yang kuat, (iv) adanya harapan yang tinggi dari personel sekolah (kepala sekolah, guru, dan staf lainnya termasuk siswa) untuk berprestasi, (v) adanya pengembangan staf sekolah yang terus menerus sesuai tuntutan IPTEK, (vi) adanya pelaksanaan evaluasi yang terus menerus terhadap berbagai aspek akademik dan administratif, dan pemanfaatan hasilnya untuk penyempurnaan/perbaikan mutu, dan (vii) adanya komunikasi dan dukungan intensif dari orang tua murid/masyarakat. Pengembangan konsep manajemen ini didesain untuk meningkatkan kemampuan sekolah dan masyarakat dalam mengelola perubahan pendidikan kaitannya dengan tujuan keseluruhan, kebijakan, strategi perencanaan, inisiatif kurikulum yang telah ditentukan oleh pemerintah dan otoritas pendidikan. Pendidikan ini menuntut adanya perubahan sikap dan tingkah laku seluruh komponen sekolah; kepala sekolah, guru dan tenaga/staf administrasi termasuk orang tua dan masyarakat dalam memandang, memahami, membantu sekaligus sebagai pemantau yang melaksanakan monitoring dan evaluasi dalam pengelolaan sekolah yang bersangkutan dengan didukung oleh pengelolaan sistem informasi yang presentatif dan valid. Akhir dari semua itu ditujukan kepada keberhasilan sekolah untuk menyiapkan pendidikan yang berkualitas/bermutu bagi masyarakat.
Dalam pengimplementasian konsep ini, sekolah memiliki tanggung jawab untuk mengelola dirinya berkaitan dengan permasalahan administrasi, keuangan dan fungsi setiap personel sekolah di dalam kerangka arah dan kebijakan yang telah dirumuskan oleh pemerintah. Bersama - sama dengan orang tua dan masyarakat, sekolah harus membuat keputusan, mengatur skala prioritas disamping harus menyediakan lingkungan kerja yang lebih profesional bagi guru, dan meningkatkan pengetahuan dan kemampuan serta keyakinan masyarakat tentang sekolah/pendidikan. Kepala sekolah harus tampil sebagai koordinator dari sejumlah orang yang mewakili berbagai kelompok yang berbeda di dalam masyarakat sekolah dan secara profesional harus terlibat dalam setiap proses perubahan di sekolah melalui penerapan prinsip-prinsip pengelolaan kualitas total dengan menciptakan kompetisi dan penghargaan di dalam sekolah itu sendiri maupun sekolah lain. Ada empat hal yang terkait dengan prinsip - prinsip pengelolaan kualitas total yaitu; (i) perhatian harus ditekankan kepada proses dengan terus - menerus mengumandangkan peningkatan mutu, (ii) kualitas/mutu harus ditentukan oleh pengguna jasa sekolah, (iii) prestasi harus diperoleh melalui pemahaman visi bukan dengan pemaksaan aturan, (iv) sekolah harus menghasilkan siswa yang memiliki ilmu pengetahuan, keterampilan, sikap arief bijaksana, karakter, dan memiliki kematangan emosional. Sistem kompetisi tersebut akan mendorong sekolah untuk terus meningkatkan diri, sedangkan penghargaan akan dapat memberikan motivasi dan meningkatkan kepercayaan diri setiap personel sekolah, khususnya siswa. Jadi sekolah harus mengontrol semua semberdaya termasuk sumber daya manusia yang ada, dan lebih lanjut harus menggunakan secara lebih efisien sumber daya tersebut untuk hal - hal yang bermanfaat bagi peningkatan mutu khususnya. Sementara itu, kebijakan makro yang dirumuskan oleh pemerintah atau otoritas pendidikan lainnya masih diperlukan dalam rangka menjamin tujuan - tujuan yang bersifat nasional dan akuntabilitas yang berlingkup nasional.
Pengertian mutu
Dalam rangka umum mutu mengandung makna derajat (tingkat) keunggulan suatu produk (hasil kerja/upaya) baik berupa barang maupun jasa; baik yang tangible maupun yang intangible.Dalam konteks pendidikan pengertian mutu, dalam hal ini mengacu pada proses pendidikan dan hasil pendidikan. Dalam "proses pendidikan" yang bermutu terlibat berbagai input, seperti; bahan ajar (kognitif, afektif, atau psikomotorik), metodologi (bervariasi sesuai kemampuan guru), sarana sekolah, dukungan administrasi dan sarana prasarana dan sumber daya lainnya serta penciptaan suasana yang kondusif. Manajemen sekolah, dukungan kelas berfungsi mensinkronkan berbagai input tersebut atau mensinergikan semua komponen dalam interaksi (proses) belajar mengajar baik antara guru, siswa dan sarana pendukung di kelas maupun di luar kelas; baik konteks kurikuler maupun ekstra-kurikuler, baik dalam lingkup subtansi yang akademis maupun yang non-akademis dalam suasana yang mendukung proses pembelajaran. Mutu dalam konteks "hasil pendidikan" mengacu pada prestasi yang dicapai oleh sekolah pada setiap kurun waktu tertentu (apakah tiap akhir cawu, akhir tahun, 2 tahun atau 5 tahun, bahkan 10 tahun). Prestasi yang dicapai atau hasil pendidikan (student achievement) dapat berupa hasil test kemampuan akademis (misalnya ulangan umum, Ebta atau Ebtanas). Dapat pula prestasi di bidang lain seperti prestasi di suatu cabang olah raga, seni atau keterampilan tambahan tertentu misalnya : komputer, beragam jenis teknik, jasa. Bahkan prestasi sekolah dapat berupa kondisi yang tidak dapat dipegang (intangible) seperti suasana disiplin, keakraban, saling menghormati, kebersihan, dsb.
Antara proses dan hasil pendidikan yang bermutu saling berhubungan. Akan tetapi agar proses yang baik itu tidak salah arah, maka mutu dalam artian hasil (ouput) harus dirumuskan lebih dahulu oleh sekolah, dan harus jelas target yang akan dicapai untuk setiap tahun atau kurun waktu lainnya. Berbagai input dan proses harus selalu mengacu pada mutu-hasil (output) yang ingin dicapai. Dengan kata lain tanggung jawab sekolah dalam school based quality improvement bukan hanya pada proses, tetapi tanggung jawab akhirnya adalah pada hasil yang dicapai . Untuk mengetahui hasil/prestasi yang dicapai oleh sekolah ' terutama yang menyangkut aspek kemampuan akademik atau "kognitif" dapat dilakukan benchmarking (menggunakan titik acuan standar, misalnya :NEM oleh PKG atau MGMP). Evaluasi terhadap seluruh hasil pendidikan pada tiap sekolah baik yang sudah ada patokannya (benchmarking) maupun yang lain (kegiatan ekstra-kurikuler) dilakukan oleh individu sekolah sebagai evaluasi diri dan dimanfaatkan untuk memperbaiki target mutu dan proses pendidikan tahun berikutnya. Dalam hal ini RAPBS harus merupakan penjabaran dari target mutu yang ingin dicapai dan skenario bagaimana mencapainya.
Kerangka kerja dalam manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah
Dalam manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah ini diharapkan sekolah dapat bekerja dalam koridor - koridor tertentu antara lain sebagai berikut ;
Sumber daya; sekolah harus mempunyai fleksibilitas dalam mengatur semua sumber daya sesuai dengan kebutuhan setempat. Selain pembiayaan operasional/administrasi, pengelolaan keuangan harus ditujukan untuk : (i) memperkuat sekolah dalam menentukan dan mengalolasikan dana sesuai dengan skala prioritas yang telah ditetapkan untuk proses peningkatan mutu, (ii) pemisahan antara biaya yang bersifat akademis dari proses pengadaannya, dan (iii) pengurangan kebutuhan birokrasi pusat.
Pertanggung-jawaban (accountability); sekolah dituntut untuk memilki akuntabilitas baik kepada masyarakat maupun pemerintah. Hal ini merupakan perpaduan antara komitment terhadap standar keberhasilan dan harapan/tuntutan orang tua/masyarakat. Pertanggung-jawaban (accountability) ini bertujuan untuk meyakinkan bahwa dana masyarakat dipergunakan sesuai dengan kebijakan yang telah ditentukan dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan dan jika mungkin untuk menyajikan informasi mengenai apa yang sudah dikerjakan. Untuk itu setiap sekolah harus memberikan laporan pertanggung-jawaban dan mengkomunikasikannya kepada orang tua/masyarakat dan pemerintah, dan melaksanakan kaji ulang secara komprehensif terhadap pelaksanaan program prioritas sekolah dalam proses peningkatan mutu.
Kurikulum; berdasarkan kurikulum standar yang telah ditentukan secara nasional, sekolah bertanggung jawab untuk mengembangkan kurikulum baik dari standar materi (content) dan proses penyampaiannya. Melalui penjelasan bahwa materi tersebut ada mafaat dan relevansinya terhadap siswa, sekolah harus menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan melibatkan semua indera dan lapisan otak serta menciptakan tantangan agar siswa tumbuh dan berkembang secara intelektual dengan menguasai ilmu pengetahuan, terampil, memilliki sikap arif dan bijaksana, karakter dan memiliki kematangan emosional. Ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam kegiatan ini yaitu;
  • pengembangan kurikulum tersebut harus memenuhi kebutuhan siswa.
  • bagaimana mengembangkan keterampilan pengelolaan untuk menyajikan kurikulum tersebut kepada siswa sedapat mungkin secara efektif dan efisien dengan memperhatikan sumber daya yang ada.
  • pengembangan berbagai pendekatan yang mampu mengatur perubahan sebagai fenomena alamiah di sekolah.
Untuk melihat progres pencapain kurikulum, siswa harus dinilai melalui proses test yang dibuat sesuai dengan standar nasional dan mencakup berbagai aspek kognitif, affektif dan psikomotor maupun aspek psikologi lainnya. Proses ini akan memberikan masukan ulang secara obyektif kepada orang tua mengenai anak mereka (siswa) dan kepada sekolah yang bersangkutan maupun sekolah lainnya mengenai performan sekolah sehubungan dengan proses peningkatan mutu pendidikan.
Personil sekolah; sekolah bertanggung jawab dan terlibat dalam proses rekrutmen (dalam arti penentuan jenis guru yang diperlukan) dan pembinaan struktural staf sekolah (kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru dan staf lainnya). Sementara itu pembinaan profesional dalam rangka pembangunan kapasitas/kemampuan kepala sekolah dan pembinaan keterampilan guru dalam pengimplementasian kurikulum termasuk staf kependidikan lainnya dilakukan secara terus menerus atas inisiatif sekolah. Untuk itu birokrasi di luar sekolah berperan untuk menyediakan wadah dan instrumen pendukung. Dalam konteks ini pengembangan profesioanl harus menunjang peningkatan mutu dan pengharhaan terhadap prestasi perlu dikembangkan. Manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah memberikan kewenangan kepada sekolah untuk mengkontrol sumber daya manusia, fleksibilitas dalam merespon kebutuhan masyarakat, misalnya pengangkatan tenaga honorer untuk keterampilan yang khas, atau muatan lokal. Demikian pula mengirim guru untuk berlatih di institusi yang dianggap tepat.
Konsekwensi logis dari itu, sekolah harus diperkenankan untuk:
  • mengembangkan perencanaan pendidikan dan prioritasnya didalam kerangka acuan yang dibuat oleh pemerintah.
  • Memonitor dan mengevaluasi setiap kemajuan yang telah dicapai dan menentukan apakah tujuannya telah sesuai kebutuhan untuk peningkatan mutu.
  • Menyajikan laporan terhadap hasil dan performannya kepada masyarakat dan pemerintah sebagai konsumen dari layanan pendidikan (pertanggung jawaban kepada stake-holders).
Uraian tersebut di atas memberikan wawasan pemahaman kepada kita bahwa tanggung jawab peningkatan kualitas pendidikan secara mikro telah bergeser dari birokrasi pusat ke unit pengelola yang lebih dasar yaitu sekolah. Dengan kata lain, didalam masyarakat yang komplek seperti sekarang dimana berbagai perubahan yang telah membawa kepada perubahan tata nilai yang bervariasi dan harapan yang lebih besar terhadap pendidikan terjadi begitu cepat, maka diyakini akan disadari bahwa kewenangan pusat tidak lagi secara tepat dan cepat dapat merespon perubahan keinginan masyarakat tersebut.
Kondisi ini telah membawa kepada suatu kesadaran bahwa hanya sekolah yang sekolah yang dikelola secara efektiflah (dengan manajemen yang berbasis sekolah) yang akan mampu merespon aspirasi masyarakat secara tepat dan cepat dalam hal mutu pendidikan.
Institusi pusat memiliki peran yang penting, tetapi harus mulai dibatasi dalam hal yang berhubungan dengan membangun suatu visi dari sistem pendidikan secara keseluruhan, harapan dan standar bagi siswa untuk belajar dan menyediakan dukungan komponen pendidikan yang relatif baku atau standar minimal. Konsep ini menempatkan pemerintah dan otorits pendiidikan lainnya memiliki tanggung jawab untuk menentukan kunci dasar tujuan dan kebijakan pendidikan dan memberdayakan secara bersama-sama sekolah dan masyarakat untuk bekerja di dalam kerangka acuan tujuan dan kebijakan pendidikan yang telah dirumuskan secara nasional dalam rangka menyajikan sebuah proses pengelolaan pendidikan yang secara spesifik sesuai untuk setiap komunitas masyarakat.
Jelaslah bahwa konsep manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah ini membawa isu desentralisasi dalam manajemen (pengelolaan) pendidikan dimana birokrasi pusat bukan lagi sebagai penentu semua kebijakan makro maupun mikro, tetapi hanya berperan sebagai penentu kebijakan makro, prioritas pembangunan, dan standar secara keseluruhan melalui sistem monitoring dan pengendalian mutu. Konsep ini sebenarnya lebih memfokuskan diri kepada tanggung jawab individu sekolah dan masyarakat pendukungnya untuk merancang mutu yang diinginkan, melaksanakan, dan mengevaluasi hasilnya, dan secara terus menerus mnyempurnakan dirinya. Semua upaya dalam pengimplementasian manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah ini harus berakhir kepada peningkatan mutu siswa (lulusan).
Sementara itu pendanaan walaupun dianggap penting dalam perspektif proses perencanaan dimana tujuan ditentukan, kebutuhan diindentifikasikan, kebijakan diformulasikan dan prioritas ditentukan, serta sumber daya dialokasikan, tetapi fokus perubahan kepada bentuk pengelolaan yang mengekspresikan diri secara benar kepada tujuan akhir yaitu mutu pendidikan dimana berbagai kebutuhan siswa untuk belajar terpenuhi. Untuk itu dengan memperhatikan kondisi geografik dan sosiekonomik masyarakat, maka sumber daya dialokasikan dan didistribusikan kepada sekolah dan pemanfaatannya dipercayakan kepada sekolah sesuai dengan perencanaan dan prioritas yang telah ditentukan oleh sekolah tersebut dan dengan dukungan masyarakat. Pedoman pelaksanaan peningkatan mutu kalaupun ada hanya bersifat umum yang memberikan rambu-rambu mengenai apa-apa yang boleh/tidak boleh dilakukan.
Secara singkat dapat ditegaskan bahwa akhir dari itu semua bermuara kepada mutu pendidikan. Oleh karena itu sekolah-sekolah harus berjuang untuk menjadi pusat mutu (center for excellence) dan ini mendorong masing-masing sekolah agar dapat menentukan visi dan misi nya utnuk mempersiapkan dan memenuhi kebutuhan masa depan siswanya.
Strategi pelaksanan di tingkat sekolah
Dalam rangka mengimplementasikan konsep manajemen peningkatan mutu yang berbasis sekolah ini, maka melalui partisipasi aktif dan dinamis dari orang tua, siswa, guru dan staf lainnya termasuk institusi yang memliki kepedulian terhadap pendidikan sekolah harus melakukan tahapan kegiatan sebagai berikut :
  • Penyusunan basis data dan profil sekolah lebih presentatif, akurat, valid dan secara sistimatis menyangkut berbagai aspek akademis, administratif (siswa, guru, staf), dan keuangan.
  • Melakukan evaluasi diri (self assesment) utnuk menganalisa kekuatan dan kelemahan mengenai sumber daya sekolah, personil sekolah, kinerja dalam mengembangkan dan mencapai target kurikulum dan hasil-hasil yang dicapai siswa berkaitan dengan aspek-aspek intelektual dan keterampilan, maupun aspek lainnya.
  • Berdasarkan analisis tersebut sekolah harus mengidentifikasikan kebutuhan sekolah dan merumuskan visi, misi, dan tujuan dalam rangka menyajikan pendidikan yang berkualitas bagi siswanya sesuai dengan konsep pembangunan pendidikan nasional yang akan dicapai. Hal penting yang perlu diperhatikan sehubungan dengan identifikasi kebutuhan dan perumusan visi, misi dan tujuan adalah bagaimana siswa belajar, penyediaan sumber daya dan pengeloaan kurikulum termasuk indikator pencapaian peningkatan mutu tersebut.
  • Berangkat dari visi, misi dan tujuan peningkatan mutu tersebut sekolah bersama-sama dengan masyarakatnya merencanakan dan menyusun program jangka panjang atau jangka pendek (tahunan termasuk anggarannnya. Program tersebut memuat sejumlah program aktivitas yang akan dilaksanakan sesuai dengan kebijakan nasional yang telah ditetapkan dan harus memperhitungkan kunci pokok dari strategi perencanaan tahun itu dan tahun-tahun yang akan datang. Perencanaan program sekolah ini harus mencakup indikator atau target mutu apa yang akan dicapai dalam tahun tersebut sebagai proses peningkatan mutu pendidikan (misalnya kenaikan NEM rata-rata dalam prosentase tertentu, perolehan prestasi dalam bidang keterampilan, olah raga, dsb). Program sekolah yang disusun bersama-sama antara sekolah, orang tua dan masyarakat ini sifatnya unik dan dimungkinkan berbeda antara satu sekolah dan sekolah lainnya sesuai dengan pelayanan mereka untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat. Karena fokus kita dalam mengimplementasian konsep manajemen ini adalah mutu siswa, maka program yang disusun harus mendukung pengembangan kurikulum dengan memperhatikan kurikulum nasional yang telah ditetapkan, langkah untuk menyampaikannya di dalam proses pembelajaran dan siapa yang akan menyampaikannya.
Dua aspek penting yang harus diperhatikan dalam kegiatan ini adalah kondisi alamiah total sumber daya yang tersedia dan prioritas untuk melaksankan program. Oleh karena itu, sehubungan dengan keterbatasan sumber daya dimungkinkan bahwa program tertentu lebih penting dari program lainnya dalam memenuhi kebutuhan siswa untuk belajar. Kondisi ini mendorong sekolah untuk menentukan skala prioritas dalam melaksanakan program tersebut. Seringkali prioritas ini dikaitkan dengan pengadaan preralatan bukan kepada output pembelajaran. Oleh karena itu dalam rangka pelaksanaan konsep manajemen tersebut sekolah harus membuat skala prioritas yang mengacu kepada program-program pembelajaran bagi siswa. Sementara persetujuan dari proses pendanaan harus bukan semata-mata berdasarkan pertimbangan keuangan melainkan harus merefleksikan kebijakan dan prioritas tersebut. Anggaran harus jelas terkait dengan program yang mendukung pencapaian target mutu. Hal ini memungkinkan terjadinya perubahan pada perencanaan sebelum sejumlah program dan pendanaan disetujui atau ditetapkan.
  • Prioritas seringkali tidak dapat dicapai dalam rangka waktu satu tahun program sekolah, oleh karena itu sekolah harus membuat strategi perencanaan dan pengembangan jangka panjang melalui identifikasi kunci kebijakan dan prioritas. Perencanaan jangka panjang ini dapat dinyatakan sebagai strategi pelaksanaan perencanaan yang harus memenuhi tujuan esensial, yaitu : (i) mampu mengidentifikasi perubahan pokok di sekolah sebagai hasil dari kontribusi berbagai program sekolah dalam periode satu tahun, dan (ii) keberadaan dan kondisi natural dari strategi perencanaan tersebut harus menyakinkan guru dan staf lain yang berkepentingan (yang seringkali merasakan tertekan karena perubahan tersebut dirasakan harus melaksanakan total dan segera) bahwa walaupun perubahan besar diperlukan dan direncanakan sesuai dengan kebutuhan pembelajaran siswa, tetapi mereka disediakan waktu yang representatif untuk melaksanakannya, sementara urutan dan logika pengembangan telah juga disesuaikan. Aspek penting dari strategi perencanaan ini adalah program dapat dikaji ulang untuk setiap periode tertentu dan perubahan mungkin saja dilakukan untuk penyesuaian program di dalam kerangka acuan perencanaan dan waktunya.
  • Melakukan monitoring dan evaluasi untuk menyakinkan apakah program yang telah direncanakan dapat dilaksanakan sesuai dengan tujuan, apakah tujuan telah tercapai, dan sejauh mana pencapaiannya. Karena fokus kita adalah mutu siswa, maka kegiatan monitoring dan evaluasi harus memenuhi kebutuhan untuk mengetahui proses dan hasil belajar siswa. Secara keseluruhan tujuan dan kegiatan monitoring dan evaluasi ini adalah untuk meneliti efektifitas dan efisiensi dari program sekolah dan kebijakan yang terkait dalam rangka peningkatan mutu pendidikan. Seringkali evaluasi tidak selalu bermanfaat dalam kasus-kasus tertentu, oleh karenanya selain hasil evaluasi juga diperlukan informasi lain yang akan dipergunakan untuk pembuatan keputusan selanjutnya dalam perencanaan dan pelaksanaan program di masa mendatang. Demikian aktifitas tersebut terus menerus dilakukan sehingga merupakan suatu proses peningkatan mutu yang berkelanjutan.

Penutup
Beragamnya kondisi lingkungan sekolah dan bervariasinya kebutuhan siswa di dalam proses pembelajaran ditambah lagi dengan kondisi geografi Indonesia yang sangat kompleks, seringkali tidak dapat diapresiasikan secara lengkap oleh birokrasi pusat. Oleh karena itu di dalam proses peningkatan mutu pendidikan perlu dicari alternatif pengelolaan sekolah. Hal ini mendorong lahirnya konsep manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah. Manajemen alternatif ini memberikan kemandirian kepada sekolah untuk mengatur dirinya sendiri dalam rangka peningkatan mutu pendidikan, tetapi masih tetap mengacu kepada kebijakan nasional. Konsekwensi dari pelaksanaan program ini adanya komitmen yang tinggi dari berbagai pihak yaitu orang tua/masyarakat, guru, kepala sekolah, siswa dan staf lainnya di satu sisi dan pemerintah (Depdikbud) di sisi lainnya sebagai partner dalam mencapai tujuan peningkatan mutu.
Dalam rangka pelaksanaan konsep manajemen ini, strategi yang dapat dilaksanakan oleh sekolah antara lain meliputi evaluasi diri untuk menganalisa kekuatan dan kelemahan sekolah. Berdasarkan hasil evaluasi tersebut sekolah bersama-sama orang tua dan masyarakat menentukan visi dan misi sekolah dalam peningkatan mutu pendidikan atau merumuskan mutu yang diharapkan dan dilanjutkan dengan penyusunan rencana program sekolah termasuk pembiayaannya, dengan mengacu kepada skala prioritas dan kebijakan nasional sesuai dengan kondisi sekolah dan sumber daya yang tersedia. Dalam penyusunan program, sekolah harus menetapkan indikator atau target mutu yang akan dicapai. Kegiatan yang tak kalah pentingnya adalah melakukan monitoring dan evaluasi program yang telah direncanakan sesuai dengan pendanaannya untuk melihat ketercapaian visi, misi dan tujuan yang telah ditetapkan sesuai dengan kebijakan nasional dan target mutu yang dicapai serta melaporkan hasilnya kepada masyarakat dan pemerintah. Hasil evaluasi (proses dan output) ini selanjutnya dapat dipergunakan sebagai masukan untuk perencanaan/penyusunan program sekolah di masa mendatang (tahun berikutnya). Demikian terus menerus sebagai proses yang berkelanjutan.
Untuk pengenalan dan menyamakan persepsi sekaligus untuk memperoleh masukan dalam rangka perbaikan konsep dan pelaksanaan manajemen ini, maka sosialisasi harus terus dilakukan. Kegiatan-kegiatan yang bersifat pilot/uji coba harus segera dilakukan untuk mengetahui kendala-kendala yang mungkin muncul di dalam pelaksanaannya untuk dicari solusinya dalam rangka mengantisipasi kemungkinan-kemungkian kendala yang muncul di masa mendatang. Harapannya dengan konsep ini, maka peningkatan mutu pendidikan akan dapat diraih oleh kita sebagai pelaksanaan dari proses pengembangan sumber daya manusia menghadapi persaingan global yang semakin ketat dan ditunjang oleh ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang secara cepat.


Daftar Pustaka
Bendell, Tony, and Boulter, Louise, and Kelly, John, 1993, Benchmarking for Competitive Advantage, Pitman Publishing, London, United Kingdom.
Chapman, Judith (ed), 1990, School-Based Decision-Making and Management, The Falmer Press, Hampshire, United Kingdom.
Dikmenum, 1999, Peningkatan Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah: Suatu Konsepsi Otonomi Sekolah (paper kerja), Depdikbud, Jakarta.
...., 1998, Upaya Perintisan Peningkatan Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah (paper kerja), Depdikbud, Jakarta.
Karlof, Bengt and Ostblom, Svante, 1994, Benchmarking : A signpost to Excellence in Quality and Productivity, John Wiley and Soons, New York, USA
Pascoe, Susan and Robert, 1998, Education Reform in Australia: 1992-97 (a Case Study), The Education Reform and Management Series, Education-World Bank, Australia.
Roger,Everett M.,1995, Diffusion of Innovations, The Free Press, New New York, USA.
Semiawan, Conny R., dan Soedijarto, 1991, Mencari Strategi Pengembangan Pendidikan Nasional Menjelang Abad XXI, PT. Grasindo, Jakarta.
Suseno, Muchlas, 1998, Percepatan Pembelajaran Menjelang Abad 21 (makalah hasil analisis dari Accelerated Learning for 21st Century oleh Colin Rose and Malcolm J. Nicholl), Pasca Sarjana IKIP Jakarta, Jakarta
TimTeknis Bappenas, 1999, School-Based Management di Tingkat Pendidikan Dasar, Naskah kerjasama Bappenas dan Bank Dunia, Jakarta.
Victorian's Departement of Education, 1997, Developing School Charter: Quality Assurance in Victorian Schools, Education Victoria, Melbourne, Australia.
..., 1998, How Good is Our School: School Performance for School Councillors, Education Victoria, Melbourne, Australia.

Selasa, 07 Februari 2012

Hati yang bersih

Hati yang bersih

Dalam sebuah hadits dikisahkan, bahwa hati setiap orang semulanya adalah bersih. Setiap ada perbuatan dosa, maka akan terdapat setitik noda hitam pada hatinya.
Dan, setitik noda hitam itu akan menjadi banyak jika perbuatan dosa sering kali dilakukan.
Semakin seringnya berbuat dosa, semakin banyak titik-titik noda. Lama kelamaan, seluruh permukaan hati akan tertutupi oleh noda hitam.
Jika hati sudah tertutup oleh noda hitam, maka hati kita tidak akan dapat lagi menghalau segala perbuatan dosa, karena cahaya kebenaran di dalam hati sudah tidak mucul lagi.

Benar jika ada yang mengatakan, bahwa Hati diibaratkan sama dengan Cermin. Jika cermin yang berdebu segera dibersihkan, insyaAllah akan memantulkan cahaya yang sebenarnya. Kalau baik akan memantulkan kebaikan, jika jelek juga akan memantulkan kejelekan.
Namun, jika cermin yang berdebu dibiarkan sampai menutup seluruh permukaan sinarnya, maka cahaya yang dipantulkannya pun bisa saja salah.
Semisal, Kita sudah berdandan dengan busana yang serasi, namun yang terlihat bisa jadi jelek. Demikian juga sebaliknya, berdandan dengan busana yang tidak serasi yang dipantulkan malah baik. Hal tersebut dikarenakan cermin sudah tidak dapat memantulkan cahayanya dengan benar.
Nah, jadi nggak beda deh dengan hati.

Sebenarnya, untuk menjaga hati agar tetap bersih dan tidak cenderung mengarah pada kesesatan, Allah SWT telah menuntun kita sebagai umat Islam untuk senantiasa melafadzkan do'a ;
" Rabbana la tuzigh quluu bana ba'da idz hadaitana wa hablana min la dunka rahmah innaka antalwahhab ".
(Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong pada kesesatan, sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau, karena sesungguhnya Engkau Maha Pemberi (karunia).

Atau, jika merasa do'a tersebut terlalu panjang untuk diingat, dengan kemurahan Allah SWT, hati tersebut dapat dibersihkan kembali dengan selalu ber " Istighfar ".

Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya hati itu mempunyai kotoran seperti kotoran pada kuningan, dan pembersihnya adalah Istighfar " [HR Baihaqi]

Maksudnya, dengan bertaubat tidak mengulangi perbuatan dosa yang sama dan memohon ampunan dengan sungguh-sungguh kepada Allah. Bahkan Allah menjanjikan memberinya ampunan dan sorga yang luasnya seluas langit dan bumi. [QS Ali Imran 3:133].

Salam,

Andri

Jumat, 16 Desember 2011

PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBUAT KALIMAT BAHASA INGGRIS

PENINGKATAN
KEMAMPUAN MEMBUAT
KALIMAT BAHASA INGGRIS

Oleh : Andri Yunatra, S.Pd *)


Abstrak. Konsep Quantum Teaching menyatakan "Bawalah dunia mereka ke dunia kita dan antarkan dunia mereka ke dunia kita". Dalam penelitian ini, penulis memilih suatu strategi pembelajaran yang dapat menjembatani antara dunia guru dangan dunia siswa, yang dinamakan strategi Chain Card Game atau Permainan Kartu Berantai. Strategi ini digunakan dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan menulis bahasa Inggris siswa kelas 2 SMP Fajar Plus Kota Depok. Setelah mengadakan perlakuan selama tiga siklus, nampak bahwa kemampuan siswa dalam membuat kalimat bahasa Inggris sedikit demi sedikit meningkat. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata nilai tes yang telah dilaksanakan. Pada tes awal rata-rata nilai kemampuan siswa dalam membuat kalimat adalah 4,10; pada tes 1 (t-1) didapat rata-rata nilai 4,46, pada test 2 (t-2) didapat nilai rata-rata 4,88 dan pada akhir siklus tes 3 (t-3) didapat rata-ra+a nilai 5,40. Dalam penelitian ini, yang paling menggembirakan dengan menggunakan strategi Chain Card Game adalah meningkatnya gairah belajar siswa.

PENDAHULUAN

Kegiatan Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan karena adanya beberapa masalah yang dihadapi baik oleh guru maupun oleh siswa dalam pembelajaran bahasa Inggris. Secara urnum dalam belajar bahasa Inggris siswa harus menguasai empat keterampilan berbahasa, yaitu: keterampilan mendengar (listening), berbicara (speaking), membaca (reading) dan menulis (writing), Namun dalam penelitian ini hanya difokuskan pada masalah yang timbul dalam kegiatan menulis, khususnya dalam membuat kalimat bahasa Inggris sederhana.
 
Data dari lapangan menunjukkan bahwa kemampuan membuat kalimat bahasa Inggris siswa sangat memprihatinkan atau masih rendah, yaitu nilai rata-rata 4,10 setelah diadakan tes awal kemampuan siswa dalam membuat kalimat bahasa Inggris (t-O).

Rendahnya kemampuan siswa dalam membuat kalimat bahasa Inggris ini tentunya dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain: kurangnya  latihan  yang  diberikan  guru, pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di kelas kurang bervariasi dan kurangnya tugas yang diberikan oleh guru. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam mambuat kalimat bahasa Inggris dangan menggunakan strategi Chain Card Game atau Permainan Kartu Berantai.
 
Yang dimaksud kemampuan membuat kalimat bahasa Inggris sederhana adalah kemampuan siswa dalam menuangkan ide atau gagasan dalam bentuk kalimat. Dalam membuat kalimat perlu memperhatikan dua hal, yaitu subtansi dari hasil tulisan itu (ide yang diekspresikan) dan aturan struktur bahasa yang benar (gramatical form and syntactic pattern). Membuat kalimat termasuk ke dalam kegiatan untuk keterampilan menulis, karena itu membuat kalimat juga berarti mengungkapkan ide dan berkomunikasi dengan orang lain melalui simbol-simbol bahasa (Harris, 1988).
 
Kalimat-kalimat yang dibuat dapat berupa kalimat yang paling sederhana yang hanya mengandung dua jabatan kata dalam kalimat, yaitu subyek dan kata kerja (S + V); subyek, kata kerja dan obyek (S+V+O) atau kalimat yang paling lengkap, yaitu: subyek, kata kerja, obyek, dan keterangan (S+V+O+ Adv).
 
Permainan menurut Carrier (1982) mempunyai nilai yang sangat tinggi bagi guru bahasa asing, sebab permainan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggunakan keterampilan bahasa tertentu dengan situasi yang tidak terlalu formal. Sedangkan menurut Hadfield (1984), permainan merupakan aktivitas yang mempunyai tujuan dan elemen kesenangan.
 
Chain Card Game adalah sebuah terjemahaan bebas dari Permainan Kartu Berantai. Para pemain memainkan kartu ini layaknya seperti bermain kartu remi. Dalam  permainan ini, pemain ditugaskan menyusun kartu-kartu yang dimiliki agar menjadi sebuah kalimat atau memainkan kartunya untuk meneruskan kalimat pemain lawan yang belum selesai, bisa di awal atau di akhir susunan kartu.
 
Permainan ini dapat dimainkan oleh empat pemain atau lebih, dengan jumlah kartu 60 lembar setiap setnya. Jumlah ini dapat saja ditambah atau dikurangi. Di setiap kartu tertulis satu kosa kata dalam bahasa Inggris, yaitu sebuah penggalan-penggalan kalimat yang telah diatur sehingga jika kartu dimainkan dengan benar akan terbentuk suatu kalimat bahasa Inggris yang benar.
 
Kartu-kartu tersebut terbuat dari karton dengan ukuran 5 x 8 cm. Ukuran ini dapat saja disesuaikan dengan selera pembuat kartu.

Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi siswa terutama dalam meningkatkan gairah belajar bahasa Inggris, dan bagi guru agar dapat menambah wawasan dalam mengaplikasikan strategi baru, serta menambah tambahan referensi karya ilmiah.
 
METODE PENELITIAN
 
Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan di SMP Fajar Plus Kota Depok, khususnya dilaksanakan di kelas 2 semester 1 tahun ajaran 2010 - 2011. Sekolah ini terletak di pinggiran Kota Depok, mempunyai 3 kelas, yaitu: kelas 1, 2 dan 3.  Jumlah referensi buku pelajaran bahasa Inggris masih dirasakan kurang.
 
Sebelum penelitian ini dilaksanakan, pertama-tama diadakan tes awal (t-O) untuk mendapatkan data pendukung yang akurat sehingga mempunyai dasar yang kuat untuk melaksanakan penelitian. Langkah selanjutnya adalah menyiapkan segala perangkat yang akan digunakan selama penelitian berlangsung, seperti pembuatan perangkat pembelajaran, Rencana Pembelajaran, Lembar Kerja Siswa untuk setiap pertemuan, dan beberapa instrumen lain seperti lembar tes, observasi, analisis, pedoman wawancara, catatan lapangan dan kartu Chain Card Game.

Penelitian ini dilakukan dalam 3 siklus selama semester pertama. Siklus pertama dilakukan dalam 3 kali pertemuan, dengan pokok bahasan Sport dengan sub pokok bahasan Kinds of Sports dan Sports Equipment. Siklus kedua dilakukan dalam 3 kali pertemuan, dengan pokok bahasan Health dan sub pokok bahasan Our Body, Diseases, dan Medicine. Siklus ketiga dilakukan dalam 4 kali pertemuan dengan pokok bahasan Clothes dan sub pokok bahasan Buying some materials, Making Clothes, Fashion Show, dan A variety of clothes, sehingga seluruhnya berjumlah 10 kali pertemuan.
 

Seperti telah diuraikan di atas, bahwa penelitian ini memerlukan instrumen-instrumen pendukung seperti: tes, lembar observasi dan pedoman wawancara.
 



HASIL DAN PEMBAHASAN

SIKLUS I


Perencanaan


Untuk mendukung terlaksananya Penelitian Tindakan Kelas ini, dibuatlah segala sesuatu yang diperlukan seperti: Perangkat Pembelajaran (RP), Lembar Kerja Siswa (LKS) mini, kartu Chain Card Game sebanyak 5 set, dan beberapa instrument pendukung seperti: tes, observasi dan wawancara.
 
Pelaksanaan
 
Pembelajaran dilaksanakan mencakup semua keterampilan berbahasa (listening, speaking, reading dan writing). Pengajaran dimulai dari kegiatan, listening, speaking, reading dan writing.
 
Perlakuan dengan Chain Card Game dilakukan pada saat kegiatan keterampilan menulis (writing), seperti langkah-langkah berikut: Guru memulai pengajaran dari keterampilan listening, dilanjutkan dengan kegiatan speaking, dan kemudian kegiatan membaca (reading). Alokasi waktu untuk ketiga keterampilan ini adalah 45 menit. Memasuki kegiatan keterampilan menulis, strategi Chain Card Game ini dilakukan. Dimulai dari penjelasan langkah-langkah dan aturan permainan, kemudian guru meminta siswa membentuk  kelompok  bermain.  Setelah membagikan kartu, guru meminta siswa untuk mulai bermain selama 15 menit, kemudian meminta wakil dari kelompok untuk membawa kartu-kartu yang telah jadi dan menuliskan kalimat jadi tersebut di papan tulis. Pembahasan kalimat-kalimat dilakukan secara klasikal. Langkah terakhir adalah meminta siswa mengerjakan LKS mini secara individu untuk
bagian keterampilan menulis. Kemudian diadakan pembahasan terhadap hasil latihan yang telah dilakukan.

Pembahasan hasil latihan dilakukan secara klasikal dengan cara siswa mengoreksi bersama-sama. Guru memberikan jawaban-jawaban yang benar dan siswa mengecek kebenaran jawaban pada LKS yang telah ditukarkan dengan LKS temannya.
 
Perlakuan Chain Card Game dalam siklus pertama ini diberikan untuk tiga kali pertemuan, dengan pokok bahasan Sport dan sub pokok bahasan Kinds of Sports dan Sport Equipment. Selama perlakuan berlangsung, kolaborator mengobservasi kegiatan pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi dan mencatat segala sesuatu yang terjadi selama pembelajaran berlangsung. Temuan-temuan yang didapatkan dicatat dalam lembar catatan lapangan. Setelah tiga kali pertemuan berlalu, dilakukanlah tes I (t-1)  untuk mengukur kemampuan siswa dalam membuat kalimat bahasa Inggris, dan sebagai data untuk dibandingkan dengan data tes awal (t-O) sehingga peneliti dapat menemukan segala perkembangan yang telah terjadi.



Pengamatan
 
Dari hasil pengamatan yang dilakukan kolaborator, didapatkan data bahwa selama siklus pertama berlangsung muncul 15 deskriptor pada pertemuan pertama, 12 deskriptor pada pertemuan kedua, 13 deskriptor pada pertemuan ketiga. Rata-rata deskriptor yang muncul diketiga perterman adalah 13,33. Berdasarkan tabel keefektivan strategi, angka 13,33 masuk ke dalam kategori efektif.
 
Untuk melihat lebih jauh keefektivan strategi Chain Card Game dalam  meningkatkan kemampuan siswa dalam membuat kalimat bahasa Inggris, maka diadakan test 1 (t-1), dengan hasil sebagai berikut: siswa yang nilainya meningkat berjumlah 28 dari 40 siswa (70%). Setelah dibandingkan dengan data nilai tes awal, ternyata rata-rata kenaikan nilai kemampuan menulis siswa sebesar 0,45 (1 1,2%).
 
Hasil wawancara yang dilakukan terhadap 5 orang siswa sebagai sampel responden, dapat disimpulkan bahwa siswa sangat menyukai permainan Chain Card Game dan gairah siswa dalam belajar bahasa Inggris meningkat. Hasil ini diperoleh dari pertanyaan pedoman nomor5, yaitu: Jika anda menggunakan Chain Card Game, mampukah anda belajar membuat kalimat bahasa Inggris lebih dari 1 jam? Seluruh responden menjawab mampu.
 
Refleksi
 
Selama siklus pertama deskriptor yang belum muncul antara lain: siswa tidak takut bertanya, siswa yang bertanya lebih banyak, siswa mengerjakan tugas lebih cepat, komunikasi antar guru dan siswa lebih lancar, guru makin hapal dengan identitas siswa.
 
Sedangkan deskriptor yang sudah muncul, seperti: guru menggunakan metode pemberian tugas, menggunakan alat bantu pembelajaran bervariasi, siswa belajar keterampilan menyusun dan membuat kalimat, menggunakan grammar dengan benar, kerja sama antar siswa meningkat, dan tidak lagi mendominasi KBM.
 
Dari beberapa indikatordi atas, ada beberapa masalah yang dapat dicatat selama pembelajaran, antara lain: kelas gaduh, setting tempat bermain kurang representatif, banyak siswa melakukan kesalahan dalam bermain, dan kurang waktu untuk membahas kalimat-kalimat yang terbentuk selama permainan.
 
Untuk mengurangi masalah-masalah tersebut, pada sikius kedua dilakukan tindakan, antara lain: memberikan pengertian pada siswa bahwa mereka bermain dalam rangka belajar, menyusun tempat bermain lebih baik, menuliskan aturan permainan di papan tulis, menambah kartu menjadi 80 kartu, dan menambah waktu untuk pembahasan kalimat yang terbentuk selama permainan berlangsung.
 
SIKLUS II
 
Perencanaan
 
Sebelum siklus kedua dilaksanakan, ada beberapa hal yang perlu disiapkan, antara lain: Rencana Pengajaran, LKS, alat bantu pengajaran, kartu Chain Card Game, lembar observasi, lembar tes 2 dan pedoman wawancara.
 
Pelaksanaan

Berdasarkan hasil refleksi pada siklus pertama, maka pada siklus kedua diberikan pengertian pada siswa untuk bermain dengan tenang, menyusun tempat bermain lebih baik dengan cara menyusun kursi yang sesuai untuk bermain, menuliskan langkah-langkah permainan di papan tulis, menambah kartu manjadi 80 tiap setnya, 60 kartu di bagikan kepada siswa dan 20 sisanya tetap di tumpukkan sebagai kartu jit, serta melakukan kegiatan pembelajaran seperti yang telah disusun dalam Rencana Pembelajaran. Langkah-langkah pembelajaran dimulai dengan membagikan LKS mini pada siswa, dilakukan kegiatan menyimak (listening), dilanjutkan dengan kegiatan berbicara (speaking), kegiatan membaca (reading), dan
kegiatan menulis (writing). Pada saat memasuki kegiatan menulis, strategi Chain Card Game diterapkan dengan langkah-langkah berikut ini: Pertama, guru memberikan pengertian pada siswa bahwa mereka bermain dalam rangka belajar sehingga harus tetap menjaga ketenangan kelas selama bermain. Kedua, guru membantu siswa menyusun kursi sehingga permainan berjalan dengan baik. Kemudian guru menuliskan aturan-aturan bermain di papan tulis supaya siswa tidak membuat kesalahan lagi dalam bermain. Berikutnya guru membagikan kartu dan meminta siswa untuk bermain, Siswa memainkan 60 kartu, sedangkan 20 kartu lainnya tetap dalam tumpukan sebagai kartu jit.
 
Karena  harus  menambah waktu  untuk pembahasan kalimat-kalimat yang terbentuk selama permainan, maka waktu untuk bermain siswa dikurangi. Pengurangan waktu untuk bermain dilakukan dengan cara memotong permainan siswa tatkala mereka sedang asyik bermain. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan efek psikologis anak agar mereka merasa belum puas, sehigga pada pertemuan berikutnya siswa masih sangat ingin bermain.

Setelah menghentikan permainan, guru meminta wakil dari kelompok untuk menuliskan kalimat-kalimat yang terbentuk dalam permainan. Kemudian guru membahas kalimat-kalimat itu secara klasikal untuk menemukan kesalahan-kesalahan yang terjadi. Selanjutnya guru meminta siswa megerjakan tugas-tugas yang terdapat dalam LKS mini secara individual. Lima menit sebelum selesai, guru menghentikan kegiatan siswa, dan melakukan pembahasan hasil latihan-latihan secara klasikal. Siswa menukarkan pekerjaannya dengan siswa lain.

Siklus kedua ini dilakukan untuk 3 kali perternuan dengan pokok bahasan Health dan sub pokok bahasan Our Body, Diseases, dan Medicine. Setelah 3 kali pertemuan, maka diadakan tes 2 untuk dibandingkan dengan hasil test 1 (t-1) sehingga didapatkan kepastian apakah perlakuan pada siklus kedua dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis bahasa Inggris.
 
Pengamatan
 
Dari hasil observasi selama siklus kedua, didapatkan data diantaranya muncul 13 deskriptor pada pertemuan pertama, 12 deskriptor pada pertemuan kedua, dan 14 deskriptor pada pertemuan ketiga, sehingga rata-rata descriptor yang muncul adalah 13. Berdasarkan table keefektivan strategi, maka angka 13 masuk ke dalam kategori efektif.
 
Untuk melihat lebih jauh keefektivan strategi Chain Card Game dalam meningkatkan kemampuan siswa dalam membuat kalimat bahasa Inggris, maka diadakan tes 2 (t-2), dan dapatkan data, berikut ini: Siswa yang nilainya meningkat berjumlah 35 (87,5%). Bila data tersebut dibandingkan dengan nilai tes 1, maka rata-rata nilai kemampuan membuat kalimat bahasa Inggris siswa meningkat sebesar 0,42 (9,4%). Hasil wawancara dengan 5 orang siswa sebagai sampel responden yang berbeda dengan siklus pertama, dapat disimpulkan bahwa siswa menyukai strategi Chain Card Game, dan yang lebih menggembirakan dengan permainan ini adalah siswa dapat bertahan belajar membuat kalimat bahasa Inggris dalam waktu yang relative lebih lama, lebih dari satu jam. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa gairah belajar siswa meningkat.
 
Refleksi
 
Dalam siklus kedua ini ada beberapa deskriptor yang belum muncul, antara lain: deskriptor nomor 4 siswa tidak takut bertanya, deskriptor nomor 11, 15, 17 dan 18.
 
Dari beberapa deskriptor di atas, masih ada hal-hal lain yang dapat dicatat oleh kolaborator, antara lain: suasana kelas masih agak gaduh, siswa yang lebih cakap terlihat masih kurang sabar dalam menghadapi siswa yang kurang cakap, anak-anak yang kurang cakap masih lamban dalam bermain, dan  masih  ditemui  kesalahan-kesalahan penggunaan kata kerja dalam kalimat. Dari inventarisasi kejadian-kejadian di atas, diupayakan pada siklus ketiga tidak terjadi lagi, dengan cara: mengacak kelompok bermain siswa, siswa yang suka ribut digabungkan dengan kelompok siswa yang pendiam; siswa yang cakap dikelompokkan dengan kelompok yang kurang cakap; kartu ditandai dengan huruf, huruf S untuk kartu yang memuat subyek, V untuk kartu verb, huruf 0 untuk kartu obyek dan huruf Adv untuk kartu adverb. Sedangkan untuk meminimalkan terjadinya kesalahan-kesalahan penggunaan kata kerja, guru memberikan penjelasan tentang penggunaan kata kerja yang berhubungan dengan materi yang sedang dibahas, sebelum siswa bermain.
 
SIKLUS III
 
Perencanaan
 
Untuk mendukung terlaksananya siklus ketiga, peneliti menyiapkan Satuan Pelajaran, Rencana Pengajaran, LKS untuk tiap pertemuan, gambar-gambar, 5 set kartu Chain Card Game masing-masing 80 kartu. Kartu-kartu tersebut sudah diberi tanda huruf S untuk kartu subyek, huruf V untuk kartu verb, huruf 0 untuk obyek, dan huruf Adv. untuk adverb. Instrumen-instrumen yang disiapkan adalah test 3, lembar observasi, pedoman wawancara dan catatan lapangan.

Pelaksanaan
 
Langkah-langkah pembelajaran dimulai dari mendengarkan, berbicara, dan menulis. Latihan-latihan untuk ketiga keterampilan ini termuat dalam LKS mini yang telah disiapkan. Pada saat kegiatan memasuki keterampilan menulis, maka strategi Chain Card Game dilakukan,
 
Bertolak dari refleksi pada siklus kedua, maka dalam siklus ketiga ini guru mengelompokkan murid berdasarkan tingkat kecakapannya yang relative seimbang, yang suka ribut digabung dengan siswa yang pendiam, dan menandai kartu-kartu yang akan dimainkan dengan huruf-huruf seperti yang diterangkan pada perencanaan di atas. Jumlah kartu masih tetap 80 buah tiap setnya: 60 kartu dibagikan kepada siswa dan 20 tetap ditumpukan sebagai kartu jit. Penandaan pada kartu dimaksudkan untuk membantu para siswa yang kurang cakap, sehingga permainan dapat berjalan dengan cepat. Langkah berikutnya adalah menerangkan beberapa penggunaan kata kerja yang berhubungan dengan pokok bahasan untuk menekan kesalahan siswa dalam menggunakan kata kerja.

Setelah permainan berjalan 15 menit guru menghentikan permainan, dan meminta siswa untuk menuliskan kalimat-kalimat yang terbentuk selama permainan di papan tulis. Kemudian guru membahas bersama-sama dengan siswa kelas.
 
Berikutnya guru meminta siswa mengerjakan latihan-latihan untuk keterampilan menulis pada LKS yang tersedia. Kemudian dilakukan pembahasan oleh guru secara klasikal, sebelumnya siswa menukarkan hasil pekerjaannya pada temannya untuk dicek.
 
Pada siklus ketiga ini, perlakuan untuk 4 kali pertemuan dengan Pokok Bahasan Clothes dan sub pokok bahasan Buying Some Materiais, Making Clothes, Fashion Show, dan A variaty of ciothes. Setelah empat kali pertemuan berlalu, maka diadakan tes 3 (t-3) untuk mengukur kemampuan siswa dalam membuat kalimat bahasa Inggris. Hasil tes ini kemudian dibandingkan dengan hasil tes 2, sehingga dihasilkan beberapa perubahan atau peningkatan.
 
Pengamatan
 
Dari hasil observasi didapatkan data bahwa pada pertemuan pertama deskriptor yang muncul 13, pada pertemuan kedua sebanyak 12 deskriptor, pada pertemuan ketiga 14 deskriptor dan pada pertemuan keempat 14 deskriptor. Dari keempat pertemuan ini didapat rata-rata deskriptor yang muncul sebanyak 13,25 deskreptor. Berdasarkan tabel tingkat keefektivan angka, 13,25 masuk ke dalam katagori etektif.
 
Untuk mendukung data kualitatif di atas, dilakukan tes 3 dengan hasil bahwa anak yang nilainya meningkat berjumlah 34 siswa (85%). Rata-rata kemampuan siswa membuat kalimat bahasa Inqqris meninqkat sebesar 0,52 (66%).
 
Dari lima responden sisiwa yang diwawancarai, kelima 5 siswa menjawab senang dengan Chain Card Game, dan yang menarik lagi adalah bahwa permainan Chain Card Game sangat disukai siswa dalam belajar bahasa Inggris.

Refleksi


Dari hasil observasi selama siklus tiga berlangsung, didapatkan kondisi berikut ini: pembelajaran berjalan lebih menyenangkan dan lebih variatif, siswa semakin antusias dalam permainan, terjadinya tutor sebaya, beberapa kelompok siswa meminjam kartu untuk dimainkan pada saat-saat senggang, siswa lebih mudah mempelajari kalimat bahasa Inggris. Hal-hal negative yang berhasil direkam antara lain: suasana kelas masih agak ribut.
 
SIMPULAN DAN SARAN
 
Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa Strategi Chain Card Game dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam membuat kalimat bahasa Inggris. Strategi ini dapat juga meningkatkan gairah belajar bahasa Inggris siswa.

DAFTAR PUSTAKA

1)     Carrier, M. 1982. Game and activities forthe language learner. London: Harrap.
2)     Deporter, B., Reardon, M. & Singer-Nourie, S. 2001. Quantum teaching. Bandung: Kaiffa.
3)     Harfield, J. 1984. Elementari communication games Thomas Nelson and Son Ltd.
4)     Harris, D.R 1988. Testing English as a second. New york: McGraw-Hill Book Company.
5)     llyas, 1. 200. Upaya Meningkatkan kemampuan siswa kelas 2 SLTP Negeri 30 Palembang dalam memahami teks lisan melalui strategi 'DICTOGLOS'.
6)     Hasan, Z. M; Sukaryana, 1. W. & Waioedy. 1997. Penelitian tindakan (Action Research). Jakarta: Deparemen Pendidikan dan Kebudayaan.

-----------------------------
*) Andri Yunatra, S.Pd adalah Guru Bahasa Inggris SMP Fajar Plus Kota Depok

Sumber : Buletin Pelangi Pendidikan (Buletin Peningkatan Mutu Pendidikan SLTP) Volume 6 No. 1 Tahun 2003